SELAMAT DATANG BULAN MUHARRAM 1432 H.
SEBAGAI AWAL BULAN TAHUN BARU ISLAM (HIJRIYAH)

BULAN MUHARRAM 1432 H (download pdf)
Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT ata karuniaNya berupa umur panjang dalam keadaan sehat dan taat kepada Allah SWT sehingga dengan kasih sayang Nya kita masih dapat bertemu dengan bulan Muharram yang mulia, yaitu awal bulan Tahun Baru 1432 Hijriyah . Bulan Muharram adalah salah satu bulan haram, salah satu bulan yang yang dimuliakan Allah SWT., sebagaimana firman Allah SWT., :

36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram[640]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri[641] kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. ( Q. surat Al-Taubah 36 )
[640] Maksudnya antara lain Ialah: bulan Haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah Haram (Mekah) dan ihram.
[641] Maksudnya janganlah kamu Menganiaya dirimu dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan Mengadakan peperangan.
Lantas apa yang harus kita lakukan dalam menyambut Tahun Baru Hijriyah ini ? Setidaknya ada dua hal; pertama adalah MUHASABAH dalam rangka membangun semangat baru yang lebih baik, kedua adalah puasa sunnah pada hari kesembilan (tasua’) dan hari kesepuluh (’asyura)
Pertama : MUHASABAH DALAM RANGKA MEMBANGUN SEMANGAT BARU YANG LEBIH BAIK
Setiap memasuki tahun baru Islam, kita hendaknya memiliki semangat baru untuk merancang dan melaksanakan hidup ini secara lebih baik. Kita seharusnya merenung kembali hikmah yang terkandung di balik peristiwa hijrah yang dijadikan momentum awal perhitungan Tahun Hijriyah.
Tahun hijriyah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Sistem penanggalan Islam itu tidak mengambil nama ‘Tahun Muhammad’ atau ‘Tahun Umar’. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan seseorang atau penonjolan personifikasi, tidak seperti sistem penanggalan Tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa, Al-Masih (Arab) atau Messiah (Ibrani).
Tidak juga seperti sistem penanggalan Bangsa Jepang, Tahun Samura, yang mengandung unsur pemujaan terhadap Amaterasu O Mi Kami (dewa matahari) yang diproklamasikan berlakunya untuk mengabadikan kaisar pertama yang dianggap keturunan Dewa Matahari, yakni Jimmu Tenno (naik tahta tanggal 11 pebruari 660 M yang dijadikan awal perhitungan Tahun Samura) Atau penangalan Tahun Saka bagi suku Jawa yang berasal dari Raja Aji Saka.
Penetapan nama Tahun Hijriyah (al-Sanah al-Hijriyah) merupakan kebijaksanaan Khalifah Umar. Seandainya ia berambisi untuk mengabadikan namanya dengan menamakan penanggalan itu dengan Tahun Umar sangatlah mudah baginya melakukan itu. Umar tidak mementingkan keharuman namanya atau membanggakan dirinya sebagai pencetus ide sistem penanggalaan Islam itu.
Ia malah menjadikan penanggalan itu sebagai zaman baru pengembangan Islam, karena penanggalan itu mengandung makna spiritual dan nilai historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam. Selain Umar, orang yang berjasa dalam penanggalan Tahun Hijriyah adalah Ali bin Abi Thalib. Beliaulah yang mencetuskan pemikiran agar penanggalan Islam dimulai penghitungannya dari peristiwa hijrah, saat umat Islam meninggalkan Makkah menuju Yatsrib (Madinah).
Dalam sejarah hijrah nabi dari Makkah ke Madinah terlihat jalinan ukhuwah kaum Ansor dan Muhajirin yang melahirkan integrasi umat Islam yang sangat kokoh. Kaum Muhajirin-Anshar membuktikan, ukhuwah Islamiyah bisa membawa umat Islam jaya dan disegani. Bisa dimengerti, jika umat Islam dewasa ini tidak disegani musuh-musuhnya, menjadi umat yang tertindas, serta menjadi bahan permainan umat lain, antara lain akibat jalinan ukhuwah Islamiyah yang tidak seerat kaum Mujahirin-Anshar.
Dari situlah mengapa konsep dan hikmah hijrah perlu dikaji ulang dan diamalkan oleh umat Islam. Setiap pergantian waktu, hari demi hari hingga tahun demi tahun, biasanya memunculkan harapan baru akan keadaan yang lebih baik. Islam mengajarkan, hari-hari yang kita lalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dengan kata lain, setiap Muslim dituntut untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Hadis Rasulullah yang sangat populer menyatakan,”Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung”, bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.”
Oleh karena itu, sesuai dengan firman Allah:

18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyar: 18).
Kedua : PUASA SUNNAH PADA HARI KESEMBILAN (TASUA’) DAN HARI KESEPULUH (’ASYURA)
Dari ayat di atas jelas Allah SWT. memuliakan bulan-bulan haram termasuk bulan muharram, berkata al-hafidz Ibnu Hajar, ra, diriwayatkan dari Hafsoh ra, Nabi Muhammad SAW. berkata : Siapa yang berpuasa di hari terakhir dari bulan Dzulhijjah dan di hari pertama di bulan Muharram, Allah SWT. akan melebur dosa selama lima puluh tahun. Besar sekali kemuliaan dan keutamaan beribadah di bulan ini, sehingga kita dianjurkan untuk memperbanyak sholat, dzikir, puasa dan lebih mendekatkan diri kepada yang mulia Allah SWT.
Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ’ulum al-Din dari Nabi Muhamad SAW. : Siapa orang yang berpuasa tiga hari di bulan yang mulia ini, yaitu hari kamis, jumat, sabtu Allah SWT akan mencatat sebagai amal ibadah selama tujuh puluh tahun. Sungguh suatu nikmat yang sangat besar apabila kita mau mengambil kesempatan emas ini yang Allah SWT. tuangkan di bulan Muharram ini, bulan yang Allah SWT. sandingkan namanya pada bulan muharram, inipun salah satu yang menyebabkan bulan muharram ini sebagai bulan mulia dan pahalanya dilipatgandakan oleh Allah SWT.
Kita sebagai ummat Nabi Muhammad SAW. Di bulan yang mulia ini harus banyak muhasabah akan diri kita selama satu tahun sebelumnya apa yang kita lakukan, kita perbanyak introspeksi diri, kita perbanyak istighfar mohon ampunan agar kita mengetahui bahwa kita banyak sekali telah melanggar aturan Allah SWT, di bulan ini kita jadikan hari-hari kita lebih mulia, lebih bermanfaat, lebih dekat kepada pencipta kita, dan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah.
Kaum muslimin yang yang dirahmati Allah SWT., lengkaplah kemuliaan bulan Muharram ini yang Allah SWT. jadikan hari Asyura pada hari kesepuluh di bulan Muharram, dimana Nabi Muhammad SAW. mensunahkan umatnya untuk berpuasa, sebagaimana riwayat dari Abu Qatadah ra, Rasulullah SAW, bersabda : ”Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Abbas ra berkata : “Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan bulan Ramadhan” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Abbas ra berkata : “Ketika Rasulullah SAW. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, maka Beliau bertanya : “Hari apa ini ?. mereka menjawab :”ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah SWT. menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda : “Aku lebih berhak terhadap Nabi Musa dari pada kalian” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa”. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas ra berkata : “Ketika Rasulullah SAW. berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) berkata : “Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani”. Maka Rasulullah pun bersabda :”Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tanggal sembilan/puasa hari tasyua’).” (H.R. Bukhari dan Muslim) Imam Ahmad dalam musnadnya dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw. bersabda : “Puasalah pada hari Asyura, dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.”
Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni semua dosa-dosa kita dan menanamkan di hati kita di bulan yang mulia ini cinta kepada Allah SWT. dan kepada nabi Muhammad SAW. Amin