Mengabdi Untuk Masa Depan Anak Yatim & Fakir Miskin

KAMI KELUARGA BESAR YAYASAN ANAK YATIM AT-TAUFIQ SANAN MALANG MENGUCAPKAN SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA BULAN SUCI RAMADHAN 1432 H

Kami Keluarga besar Yayasan Anak Yatim At-Taufiq Sanan Malang Mengucapkan terima kasih banyak  atas kunjungan, bantuan, infaq, zakat, shodaqoh semoga Allah SWT membalasnya amien…

INFORMASI LEBIH LENGKAP KLIK : FINANCE

PEDULI ANAK YATIM DAN FAKIR MISKIN

Realitas sosial di sekitar kita ada sebagian dari anak-anak  yang hidup dalam kesulitan, ada yang menjadi yatim, menjadi piatu, dan bahkan menjadi yatim-piatu, ada yang diterlantarkan orang tuanya, dan ada yang menjadi korban kekerasan social. Berbagai macam status social anak-anak tersebut terjadi seringkali menimpa pada keluarga mereka yang tergolong ekonomi tidak mampu, bahkan tidak jarang juga terjadi dari keluarga berekonomi mampu. Diantara mereka, sebagian kecil atau sebagian besar hidupnya kadang tidak jelas, dan juga mengalami penderitaan karena kurang dan justru tidak mendapatkan perhatian, baik oleh orang tuanya sendiri maupun masyarakat. Padahal mereka mempunyai hak dan perlakuan yang semestinya sama dengan anak-anak lainnya. yang sama. Ada orang tua yang saling berebut anak setelah cerai. Jalur hukum dan biaya besar dibelanjakan untuk mengejar ambisi pribadi dengan korban anak-anaknya. Egoisme individu telah mengambil hak-hak mereka dengan cara yang kejam dan bathil. Sekali lagi, anak sering kali menjadi obyek penderita yang diabaikan hak dan kasih sayangnya.

Anak yatim adalah fenomena sosial yang nyata di depan mata kita. Sebagian dari mereka ada yang beruntung karena mendapatkan tempat yang layak sehingga dapat menikmati kasih sayang dan kebutuhan materi secara cukup. Sebagian yang lain dari mereka hidup dalam keadaan sulit, dieksploitasi orang yang tidak bertanggung jawab, meminta-minta di jalanan untuk memenuhi kebutuhan hidup, terjerumus di lembah nista, dan menjadi gelandangan tanpa harapan masa depan. Adakah kita menyadarinya, bahwa fenomena ini adalah nyata? Adakah kita telah tergerak hati untuk meringankan beban mereka dengan kemampuan kita?

Kalau kita membuka perintah Allah SWT dalam kitab suci akan mengatahui bahwa umat Islam telah diwajibkan peduli dengan anak yatim dan fakir miskin. Bahwa pengakuan kita sebagau pemeluk Agama Allah ta’ala yang kaffah dipertanyakan lagi apabila tidak memiliki kepedulian terhadap anak yatim dan fakir miskin. Inilah ayat tersebut :

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS Al Maa’uun :107,1-3).

Kalau ditelaah lebih mendalam, firman Allah di atas memberikan sinyalemen bahwa cap pendusta bagi orang yang mengaku ber-Islam sedangkan perilakunya tidak sesuai dengan perintah Allah. Pantasnya mereka disebut pendusta, pembohong besar apabila mengaku sebagai umat Islam padahal dia tidak peduli dengan anak yatim. Betapa banyak anakanak yatim yang terlantar di sekitarnya, ternyata dia hanya sibuk dengan urusan sendiri, sibuk dengan kepentingan golongannya, sibuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan. Rasanya kita tidak perlu tunjuk hidung orang lain. Yang diperlukan adalah tindakan nyata bahwa kita peduli dengan anak yatim, kita membantu orang miskin. Sudahkah itu kita lakukan dengan tangan kita sendiri. Sekarang waktunya dan j angan tunda lagi HL

Rasulullah Muhammad SAW, juga menempatkan kedudukan orang-orang yang peduli dengan anak yatim dengan perumpamaan sederhana, sebagaimana diriwayatkan dalam hadist Bukhari. “Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti duajari ini. (HR. Bukhari)”. Dalam rilvayat Abu Daud dan Ahmad, “Rasulullah sambil menunjukjari telunjuk dan jari tengah”. Apa yang dimaksud Rasul dengan menunjuk dua jari yang berhimpitan ini? Tentu saja, Rasul ingin mengajarkan kepada kita betapa tingginya dan dekatnya kedudukan antara Rasul dan orang yang peduli anak yatim. Kalau rasulullah pasti mendapat jarninan surga Allah t’ala, apakah mereka juga mendapatkan tempat itu?.

Yang pasti Surga adalah tempat yang tinggi dan terbaik dan menjadi harapan kita semua, kalau kita yakin dengan kedatangan Rasul, pasti menbenarkan juga ncapan dan ajarannya. Bahwa Rasulullah menyebut pengasuh anak yatim kelak di surga sangat dekat, maka dapat pula disarikan bahwa pengasuh anak yatim mendapat jaminan surga dari Rasul. Bukankan kita semua juga indin mendapatkan surga Allah? Ternyata tidak sulit, mari kita peduli dengan anak yatim.

PENGGALAN KISAH ANAK YATIM

DI DALAM AL QUR’AN:

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, ANAK-ANAK YATIM, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (QS. Al-Baqarah (2):83)

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, ANAK-ANAK YATIM, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila is berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orangorang yang bertagwa. (QS. Al-Baqarah (2):177)

Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, ANAK-ANAK YATIM, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (QS. Al-Baqarah (2):215)

15 TAHUN PERJALANAN AT-TAUFIQ

Tanpa terasa Yayasan Anak Yatim AT-TAUFIQ yang berdomisili di kampong Sanan Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing Malang ternyata pada 6 April 2011 sudah bertahan atau  menempuh perjalanan selama 15 tahun. Walaupun banyak suka dan duka yang dialami ketika mengikuti dan mengelola Yayasan, yang secara resmi berdiri pada tanggal 6 April 1996 yang lalu, tetapi sebenarnya banyak pula hikmah dan pelajaran yang dapat diperoleh. Perasaan puas, perasaan gembira, perasaan jengkel dan perasaan haru seringkali campur aduk menjadi satu.   Disamping  bercampurnya berbagai perasaan di atas sebenarnya banyak kenikmatan yang juga dapat diperoleh, dan ketika itu yang paling dominant justru kenikmatan yang dapat dirasakan.

Mengapa demikian ? Jawabannya adalah; mungkin semua pihak, baik pengurus, anak asuh maupun masyarakat berangkat dengan niat yang tulus dan ikhlas semata-mata ingin mencoba mengiplemansitakan atau mengamalkan ajaran suci agama Allah SWT. yang  berhubungan dengan ajaran saling memberi pertolongan, saling memberi bantuan, dan saling berempati terhadap sesama, khususnya terhadap anak yatim dan orang-orang yang mendapat anugrah dari Allah SWT berkekurangan dari segi ekonomi.  Anak yatim dan orang-orang yang lagi berkekurangan dari segi ekonomi pada dasarnya mempunayai hak sama dengan masyarakat pada umumnya; hak hidup layak, hak kesempatan akses pendidikan, dan hak-hak lainnya, tetapi untuk memenuhi hak-hak tersebut tidak mungkin dapat mereka lakukan sendiri. Oleh karenanya, diperlukan perhatian dan rasa empati dari pihak lain yang kebetulan mendapatkan anugerah kelebihan dari Allah SWT.

Untuk itu, atas nama pengurus menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak, dan kami memohon kepada Allah SWT. mudah-mudahan segala perhatian, bantuan dan partisipasinya dicatat oleh Allah SWT. sebagai amal soleh dan mendapat ridlaNya. amien ya Robbal Alamin.

KAMI SEGENAP KELUARGA BESAR YAYASAN AT-TAUFIQ SANAN MALANG MENGUCAPKAN TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN DAN PARTISIPASINYA DALAM ACARA MAULID NABI MUHAMMAD SAW DAN MILAD KE-15 YAYASAN AT-TAUFIQ :

This slideshow requires JavaScript.

PENGAJIAN NADA DAN DA’WAH

BERSAMA : KH. ABDUR ROSYID (DA’I POLDA JATIM)

DALAM RANGKA :

MAULID NABI MUHAMMAD SAW DAN MEMPERINGATI MILAD KE-15 YAYASAN AT-TAUFIQ

Yang akan dimeriakan oleh ISHARI Se-Malang Raya Pada Hari Jum’at 5 Jumadil Ula 1432 H, 8 April 2011

Acara Pengajian :

PADA     : SABTU 6 JUMADIL ULA 1432 H, 9 APRIL 2011

PUKUL  : 19.00-SELESAI

TEMPAT : HALAMAN YAYASAN AT-TAUFIQ

Dimeriahkan Group Shalawat EL-SANANTA Sanan Malang

YAYASAN ANAK YATIM AT-TAUFIQ SANAN MALANG

INFO :

  • Jl. Sanan 70 RT 08 RW.15 Purwantoro Blimbing Malang 65122. Telp. (0341) 411105 Malang, Indonesia 65122

Rekening Yayasan atas nama Bpk. H. Agusmanto (Bendahara I) dan Bpk. Chamdani (BendaharaII) di Bank BNI Syari’ah Kancab. Malang No : 0127054102, alamat Bank JalanJaksa Agung Suprapto 48 Malang

SHALAWAT, SALAM & AMAL SHALEH

TUMBUHKAN EMPATI ANTAR SESAMA

SELAMAT DATANG BULAN MUHARRAM 1432 H.

SEBAGAI AWAL BULAN TAHUN BARU ISLAM (HIJRIYAH)

BULAN MUHARRAM 1432 H (download pdf)

Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT ata karuniaNya berupa umur panjang dalam keadaan sehat dan taat kepada Allah SWT sehingga dengan kasih sayang Nya kita masih dapat bertemu dengan bulan Muharram yang mulia, yaitu awal bulan Tahun Baru 1432 Hijriyah . Bulan Muharram adalah salah satu bulan haram, salah satu bulan yang yang dimuliakan Allah SWT., sebagaimana firman Allah SWT., :

36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram[640]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri[641] kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. ( Q. surat Al-Taubah 36 )

[640] Maksudnya antara lain Ialah: bulan Haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah Haram (Mekah) dan ihram.

[641] Maksudnya janganlah kamu Menganiaya dirimu dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan Mengadakan peperangan.

 

Lantas apa yang harus kita lakukan dalam menyambut Tahun Baru Hijriyah ini ? Setidaknya ada dua hal; pertama adalah MUHASABAH dalam rangka membangun semangat baru yang lebih baik, kedua adalah puasa  sunnah pada hari kesembilan (tasua’) dan hari kesepuluh (’asyura)

 

Pertama : MUHASABAH DALAM RANGKA MEMBANGUN SEMANGAT BARU YANG LEBIH BAIK

Setiap memasuki tahun baru Islam, kita hendaknya memiliki semangat baru untuk merancang dan melaksanakan hidup ini secara lebih baik. Kita seharusnya merenung kembali hikmah yang terkandung di balik peristiwa hijrah yang dijadikan momentum awal perhitungan Tahun Hijriyah.

Tahun hijriyah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Sistem penanggalan Islam itu tidak mengambil nama ‘Tahun Muhammad’ atau ‘Tahun Umar’. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan seseorang atau penonjolan personifikasi, tidak seperti sistem penanggalan Tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa, Al-Masih (Arab) atau Messiah (Ibrani).

Tidak juga seperti sistem penanggalan Bangsa Jepang, Tahun Samura, yang mengandung unsur pemujaan terhadap Amaterasu O Mi Kami (dewa matahari) yang diproklamasikan berlakunya untuk mengabadikan kaisar pertama yang dianggap keturunan Dewa Matahari, yakni Jimmu Tenno (naik tahta tanggal 11 pebruari 660 M yang dijadikan awal perhitungan Tahun Samura) Atau penangalan Tahun Saka bagi suku Jawa yang berasal dari Raja Aji Saka.

Penetapan nama Tahun Hijriyah (al-Sanah al-Hijriyah) merupakan kebijaksanaan Khalifah Umar. Seandainya ia berambisi untuk mengabadikan namanya dengan menamakan penanggalan itu dengan Tahun Umar sangatlah mudah baginya melakukan itu. Umar tidak mementingkan keharuman namanya atau membanggakan dirinya sebagai pencetus ide sistem penanggalaan Islam itu.

Ia malah menjadikan penanggalan itu sebagai zaman baru pengembangan Islam, karena penanggalan itu mengandung makna spiritual dan nilai historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam. Selain Umar, orang yang berjasa dalam penanggalan Tahun Hijriyah adalah Ali bin Abi Thalib. Beliaulah yang mencetuskan pemikiran agar penanggalan Islam dimulai penghitungannya dari peristiwa hijrah, saat umat Islam meninggalkan Makkah menuju Yatsrib (Madinah).

Dalam sejarah hijrah nabi dari Makkah ke Madinah terlihat jalinan ukhuwah kaum Ansor dan Muhajirin yang melahirkan integrasi umat Islam yang sangat kokoh. Kaum Muhajirin-Anshar membuktikan, ukhuwah Islamiyah bisa membawa umat Islam jaya dan disegani. Bisa dimengerti, jika umat Islam dewasa ini tidak disegani musuh-musuhnya, menjadi umat yang tertindas, serta menjadi bahan permainan umat lain, antara lain akibat jalinan ukhuwah Islamiyah yang tidak seerat kaum Mujahirin-Anshar.

Dari situlah mengapa konsep dan hikmah hijrah perlu dikaji ulang dan diamalkan oleh umat Islam. Setiap pergantian waktu, hari demi hari hingga tahun demi tahun, biasanya memunculkan harapan baru akan keadaan yang lebih baik. Islam mengajarkan, hari-hari yang kita lalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dengan kata lain, setiap Muslim dituntut untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Hadis Rasulullah yang sangat populer menyatakan,”Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung”, bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.”

Oleh karena itu, sesuai dengan firman Allah:

 

18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyar: 18).

Kedua : PUASA  SUNNAH PADA HARI KESEMBILAN (TASUA’) DAN HARI KESEPULUH (’ASYURA)

Dari ayat di atas jelas Allah SWT. memuliakan bulan-bulan haram termasuk bulan muharram, berkata al-hafidz Ibnu Hajar, ra, diriwayatkan dari Hafsoh ra, Nabi Muhammad SAW. berkata : Siapa yang berpuasa di hari terakhir dari bulan Dzulhijjah dan di hari pertama di bulan Muharram, Allah SWT. akan melebur dosa selama lima puluh tahun. Besar sekali kemuliaan dan keutamaan beribadah di bulan ini, sehingga kita dianjurkan untuk memperbanyak sholat, dzikir, puasa dan lebih mendekatkan diri kepada yang mulia Allah SWT.

Al-Imam Ghazali berkata di dalam kitabnya Ihya’ ’ulum al-Din dari Nabi Muhamad SAW. : Siapa orang yang berpuasa tiga hari di bulan yang mulia ini, yaitu hari kamis, jumat, sabtu Allah SWT akan mencatat sebagai amal ibadah selama tujuh puluh tahun. Sungguh suatu nikmat yang sangat besar apabila kita mau mengambil kesempatan emas ini yang Allah SWT. tuangkan di bulan Muharram ini, bulan yang Allah SWT. sandingkan namanya pada bulan muharram, inipun salah satu yang menyebabkan bulan muharram ini sebagai bulan mulia dan pahalanya dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Kita sebagai ummat Nabi Muhammad SAW. Di bulan yang mulia ini harus banyak muhasabah akan diri kita selama satu tahun sebelumnya apa yang kita lakukan, kita perbanyak introspeksi diri, kita perbanyak istighfar mohon ampunan agar kita mengetahui bahwa kita banyak sekali telah melanggar aturan Allah SWT, di bulan ini kita jadikan hari-hari kita lebih mulia, lebih bermanfaat, lebih dekat kepada pencipta kita, dan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah.

Kaum muslimin yang yang dirahmati Allah SWT., lengkaplah kemuliaan bulan Muharram ini yang Allah SWT. jadikan hari Asyura pada hari kesepuluh di bulan Muharram, dimana Nabi Muhammad SAW. mensunahkan umatnya untuk berpuasa, sebagaimana riwayat dari Abu Qatadah ra, Rasulullah SAW, bersabda : ”Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Abbas ra berkata : “Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan bulan Ramadhan” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Abbas ra berkata : “Ketika Rasulullah SAW. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, maka Beliau bertanya : “Hari apa ini ?. mereka menjawab :”ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah SWT. menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda : “Aku lebih berhak terhadap Nabi Musa dari pada kalian” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas ra berkata : “Ketika Rasulullah SAW. berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) berkata : “Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani”. Maka Rasulullah pun bersabda :”Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tanggal sembilan/puasa hari tasyua’).” (H.R. Bukhari dan Muslim) Imam Ahmad dalam musnadnya dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw. bersabda : “Puasalah pada hari Asyura, dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.”

Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni semua dosa-dosa kita dan menanamkan di hati kita di bulan yang mulia ini cinta kepada Allah SWT. dan kepada nabi Muhammad SAW. Amin

PROSENTASE (%) PEMASUKAN & PENGELUARAN TAHUN 2010

YAYASAN ANAK YATIM AT-TAUFIQ SANAN MALANG

INFO LAPORAN KEUANGAN LEBIH LENGKAP

Klik : FINANCE

MENYEMBELIH QURBAN BERSAMA MASYARAKAT

Tepat pukul 08.30 pada hari Rabu 17 November 2010 pagi setelah menunaikan solat I’dul Adlha 1431 H. suara takbir terdengar dengan merdunya dari lisan-lisan mungil dengan diiringi terbang dan jidor yang ditabuh sekenanya oleh tangan-tangan lucu sejumlah anak asuh Yayasan Anak Yatim AT-TAUFIQ Sanan Malang. Suara takbir dan terbang jidor yang bergema untuk menandai akan dimulainya penyembelihan hewan korban di Ma’had/Pondok yang dihuni oleh 42 anak yatim.

Suasana gembira dan suka ria tampak pada wajah-wajah lucu mereka. Kegembiraan mereka semakin bertambah setelah teman-teman sebaya dan para tetangga yang terdiri dari bapak-bapak dan  ibu-ibu yang bertempat tinggal tidak jauh dari yayasan pada berdatangan. Diantara mereka berbaur menjadi satu mengerumi kambing-kambing yang kelihatan pasrah seolah mengetahui bahwa suara takbir yang dikumandangkan adalah untuk menghantar mereka masuk surga di hadapan Allah swt. Memang kambing-kambing korban yang disembelih pada I’dul Adlha pada hari akhir (hari kiamat) nanti akan menyongsong si pemilik korban dan siap sebagai kendaraan untuk mengantar ke surga Allah swt. Mudah-mudah korban mereka diterima oleh Allah swt.

Alhamdulillah, pada hari I’dul Adlha tahun ini (1431 H) Yayasan Anak Yatim AT-TAUFIQ mendapat amanat menyembelih hewan korban berupa kambing sebanyak 11 ekor. Amanah tersebut dari :

  1. Bapak Wisnu Mardjoko (Perum. Sulfat Agung XII/8 Malang) 1 ekor,
  2. Bapak Salim al-Amudi (Jl. Ciwulan Malang) 1 ekor,
  3. Bapak H. Roesdiarno (Malang) 1 ekor,
  4. Bapak Badrus (Sanan Malang) 1 ekor,
  5. Ibu Suparmi (Sanan Malang) 1 ekor,
  6. Ibu Firli Hikmah Melyana (Jl. Sanan IX Malang) 1 ekor,
  7. Ibu Joko (Malang) 1 ekor,
  8. Bapak Fahrul Rizal (Malang) 1 ekor,
  9. Bapak Fahrul Rizal (Jl. Tumenggung Suryo 92 A Malang) 2 ekor, dan
  10. Ibu Wahyu W ( Jl. Ciwulan Malang) 1 ekor.

Disamping berupa kambing, juga berupa paket daging, baik daging sapi maupun daging kambing. Paket tersebut dari :

  1. Ta’mir Masjid Abdillah ( Jl. Raya Sulfat Malang),
  2. Ta’mir Masjid al-Hidayah ( Jl. Cisadea Malang),
  3. Ta’mir Masjid al-Hidayah (Jl. Titan 3 Malang),
  4. Ta’mir Masjid Ar-Ridlo (Jl. RT. Suryo Malang),
  5. Ta’mir Masjid Cut Nya’ Dien ( Perum Srikandi Sebuku Malang), dan
  6. Ta’mir Masjid An-Nur ( Perum Bumi Meranti Wangi Malang.

Tepat pada pukul 15.00 wib penyembelian telah usai, dan pada waktu itu juga dibagikan secara langsung ke alamat orang-orang berhak, dan ada dua ekor kambing dikirim ke salah satu kampung di daerah Bululawang Malang.

Dengan usainya kegiatan penyembelihan hewan korban tersebut, atas nama pengurus Yayasan menghaturkan banyak terima kasih atas amanah Bapak/Ibu yang telah menyerahkan hewan dan daging korban dan tidak lupa juga kepada Bapak/Ibu serta adik-adik kecil yang ikut membantu, semoga Allah memberkahi, amien ya Rabbal ’Alamin.

KAMI SEGENAP KELUARGA BESAR YAYASAN AT-TAUFIQ MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1431 H

This slideshow requires JavaScript.

Idul Adha kembali hadir di tengah-tengah kita. Idul Adha memiliki hikmah dan makna yang amat penting untuk ditangkap dalam perspektif ajaran agama yang substansial. Idul Adha merupakan ritual keagamaan yang sarat nuansa simbolik-metaforis yang perlu dimaknai secara kontekstual dalam pijakan nilai-nilai universal Islam.

Saat ini kita masih berada dalam rangkaian hari-hari Tasyrik. Pada hari ini kita masih berkesempatan menyembelih hewan kurban, mengumandangkan takbir, dan dilarang menjalankan shaum. Dengan kata lain, nuansa Idul Adha masih kental menyelimuti keseharian kita. Semoga, di balik itu semua, ada satu hal penting yang harus kita internalisasikan dalam diri. Yaitu, bagaimana nuansa Idul Adha yang hanya lima hari ini (9 sampai 13 Dzulhijjah) bisa menjiwai nuansa keseharian kita? Untuk menjawab hal ini, kita bisa menelaah kembali hikmah dari Idul Adha ini.

Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari momentum Idul Adha ini. Dari sekian banyak hikmah tersebut, berikut beberapa makna tersirat dari momentum Idul Adha yang merupakan hasil perenungan penulis sendiri :

  1. Ketika menyaksikan penyembelihan hewan qurban, ada satu pelajaran penting untuk kita renungkan. Ketika hewan qurban disembelih berarti menyembelih pula sifat-sifat kebinatangan yang ada padanya. Di sinilah hikmah penting bagi kita, di mana kita pun harus segera menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri kita. Banyak manusia yang telah jatuh derajatnya menjadi ”binatang”, sebab sifat-sifat bahimiyyah (kebinatangan) telah melingkupi perangai dan perllakunya. Sebagai makhluk yang terhormat tentu kita tidak ingin derajat kita jatuh menjadi binatang. Untuk itu sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri kita, seperti sifat rakus, serakah, pelit, mau menang sendiri, sombong dan lain sebagainya harus segera kita ”sembelih” dari diri kita. Inilah salah satu makna tersirat dari ibadah qurban yang jarang kita pahami.
  2. Ketika menyaksikan penyembelihan hewan qurban, kita juga menyaksikan bagaimana darah hewan qurban kita membasahi bumi ini. Di sana ada satu hikmah besar yang bisa jadikan pelajaran. Bila saat ini yang kita kurbankan untuk Allah adalah darah hewan qurban kita, suatu saat jika dibutuhkan kan kita juga harus siap mengorbankan darah dan jiwa kita untuk Allah SWT. Inilah bentuk pengorbanan terbesar yang harus berani kita tunjukkan kepada Allah sebagai bukti keimanan kita, sebagaimana yang telah didemonstrasikan pula oleh Nabiyullah Ibrahim dan keluarganya. Allah pada hakikatnya tidak membutuhkan apa-apa, termasuk persembahan. Perintah itu hanya untuk menguji ketaatan manusia dalam merespons pesan dan perintah Ilahi dan kesediaannya untuk tidak dikungkung kediriannya yang subyektif, atau impuls-impuls kejahatan yang menipu. Persembahan sekadar suatu simbol yang melambangkan makna yang lebih substansial, yaitu ungkapan ketaatan untuk mengembangkan nilai-nilai agama yang sejatinya selalu bersesuaian dengan nilai kemanusiaan perenial.
  3. Salah satu hikmah mengapa Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba adalah bahwa Allah tidak mau manusia dijadikan kurban. Allah menjadikan hewan sebagai kurban. Ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang sangat mulia disisi-Nya. Maka sungguh aneh kalau di zaman sekarang ada orang yang dengan mudahnya mengorbankan sesama manusia demi mengejar kepentingan pribadinya. Dan tersirat pula pesan yang ingin memaklumkan manusia agar tidak lagi menginjak-injak manusia lain dan harkat kemanusiaannya. Secara historis pun ada pelajaran penting yang bisa kita renungkan. Pada masa Nabi Ibrahim hidup, sekitar 4300 tahun lalu, menjadikan manusia sebagai sesaji adalah hal biasa. Di Mesir kuno, setiap tahunnya selalu dilaksanakan kontes kecantikan, dan yang terpilih akan ditenggelamkan di Sungai Nil sebagai persembahan kepada dewa. Di Mesopotamia (Irak) yang dijadikan sesaji adalah bayi. Di Aztek, yang dijadikan sesaji adalah para pemuka agama. Digantinya Ismail dengan seekor domba menandai lahirnya revolusi besar dalam sejarah peradaban manusia, yaitu dihapuskannya pengorbanan manusia. Manusia itu terlalu mahal untuk dikorbankan. Hikmahnya, kita harus menghormati manusia, jangan mengorbankan manusia, bahagiakan manusia, dan bantu mereka yang membutuhkan bantuan.
  4. Salah satu hikmah terpenting dari momentum Idul Adha yang dapat kita aplikasikan dalam kehidupan bangsa saat ini, yaitu semangat dan keikhlasan untuk berkorban. Semangat untuk berkorban dengan tanpa pamrih pada dasarnya akan menumbuhkan solidaritas sosial masyarakat. Apalagi saat ini kita menyaksikan betapa bangsa dan negara kita tengah dilanda oleh berbagai fenomena musibah dan bencana alam yang teramat dahsyat. Banjir, tanah longsor, gempa bumi, lumpur panas, dan kebakaran terjadi di mana-mana. Gelombang bencana ini telah memporak-porandakan berbagai sendi kehidupan masyarakat. Fasilitas-fasilitas kehidupan pun mengalami kerusakan yang teramat parah. Jalan-jalan banyak yang rusak, rumah-rumah banyak yang terendam, harta benda lainnya banyak tidak dapat berfungsi seperti sediakala, akibat tidak dapat diselamatkan. Bencana ini pun menimbulkan trauma psikologis bagi warga masyarakat. Masyarakat menjadi panik, gelisah, dan khawatir jika bencana itu datang lagi. Semangat berkurban harus tercermin dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Semangat berkurban terutama harus ditunjukkan oleh para pemimpin dan kaum elit negeri ini. Tidak hanya rakyat yang diminta untuk berkurban, tetapi para pemimpin harus memberikan contoh. Tidak berkhianat terhadap amanah jabatan yang diembannya merupakan salah satu contoh pengorbanan yang dilakukan. Karena pengkhianatan terhadap amanah, hanya akan membawa bangsa ini pada kehancuran. Seseorang yang mengkhianati amanahnya biasanya memiliki sifat rakus dan tamak. Watak rakus dan tamak ini akan menempatkan kepentingan dirinya sendiri di atas kepentingan orang lain. Segala macam cara akan dipergunakan untuk mendapatkan berbagai jabatan dan kedudukan yang dianggapnya akan memperkaya dan menguntungkan diri dan kelompoknya. Jabatan akan dipertahankannya walaupun secara etika dan moral sudah tidak layak disandangnya, karena banyak anggota masyarakat yang menolak kepemimpinannya.
  5. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dua manusia terbaik yang ada di bumi telah berhasil mengangkat nilai martabat manusia pada kedudukan yang sesungguhnya, penghambaan secara total kepada Sang Khalik. Ibrahim menyerahkan putranya untuk disembelih dihadapan Allah, sebuah penggambaran totalitas ketertundukan seorang manusia kepada Tuhannya. Melalui Nabi Ibrahim, manusia telah melihat sebuah nilai pengorbanan yang bersih dari nilai-nilai kesombongan, keangkuhan, dan kesemuanya hanya tertunduk patuh pada-Nya. Kerelaan Nabi Ismail untuk disembelih merupakan perwujudan cinta kasih yang sangat luar biasa kepada sang ayah atas nama Tuhan. Ketika pengorbanan diminta, tak ada perdebatan, tak ada keberatan, tak ada penolakan sedikitpun, inilah manusia yang mulia yang mampu membebaskan dirinya dari belenggu nafsu yang selalu mengajak untuk cinta dunia secara mutlak.

Demikianlah beberapa hikmah Idul Adha yang merupakan hasil renungan penulis, mudah-mudahan kita bisa selalu mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa penting yang kita lalui dalam hidup ini guna meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada-Nya. Amiin.

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.